Hari Selasa, 12 Oktober 2010, TV-1 menayangkan wawancara tentang kampanye sehari tanpa nasi. Berita ini membuat aku terprovokasi. Ada kesamaan ide dalam topik ini, yaitu makanan pokok bukan hanya nasi. Menang dalam wawancara itu, dasar pemikirannya adalah nasi tidak bisa terus menerus diandalkan sebagai makanan pokok, karena faktor rasio pertambahan penduduk dengan luas sawah dan produksinya. Butuh diversifikasi agar terus "bisa makan". Tapi pemikiranku sederhana saja. Aku ingat betul pelajaran di Sekolah Dasar, yaitu "makanan pokok di Indonesia ada beras, singkong, ubi, sagu, dan jagung". Kesimpulannya makanan pokok bukan hanya beras / nasi. Semua pelajar SD sengkatanku pasti dapat teori serupa, tapi ternyata tidak semua nyangkut di kepala bahkan termodalkan untuk diamalkan. Kalau (almh) ibu saya tau, pasti akan dikatai "dasar orang makan sekolahan tapi tidak makan ajar!". Heheh... siapa lagi ya "sing ora mangan ajar" (yang tidak makan ajar?
Karena kesamaan gagasan itulah, hari ini, Rabu 13 Oktober 2010 aku "iseng" mencoba mempraktikkan kampanye itu. Kebetulan, yu Sri pagi hari nggodog tela (singkong). Langsung saja terpikir, ini adalah menu sarapanku. Kalau makan singkong thok, garing. Aku ambil sepotong sisa telur dadar semalam sebagai lauknya. Rasanya ...... aneh, tapi nylekamin juga. Siang sekitar jam 10, kebetulan aku mertamu ke SMK PB kelas jauh di Rakit. Dapet suguhan kolak isinya labu (waluh kenthi), ubi, dan singkong. waw... full carbohydrate. Sore, sekitar jam 3 aku berada di kampus untuk meeting mentransfer pengalaman berorganisasi pada yujior. Perut agak lapar, juga. Biasanya menu makan dijemput di kantin mbak Jum, tapi sore itu aku santap mie ayam semangkuk. Kenyang, tapi... monosodium glutamat-nya itu... kurang afdhol. Malam harinya tiba di rumah mertua. Kebetulan istri mengabarkan "nasinya habis". Wah... mendukung sekali. Dia mau buatkan aku mie instant. Aku tolak, karena sudah menyantap mie ayam. Dan sebagai penggantinya, dua potong tempe kemul, dan seonggok sisa nangka sabrang (sirsak) aku embat habis. Ueegh.. kuenyang juga.
Aku bisa mempraktikkan sehari tanpa nasi. Orang lain... sebenarnya juga bisa. Barangkali faktor kesadaran dan proses memulainya saja yang berbeda. Aku sendiri kalau setiap hari tanpa nasi, rasanya .... sulit juga. Jadi, perlu irama untuk mengurangi ketergantungan pada nasi hingga bisa lebih sering tanpa nasi. Hari ini bisa tanpa nasi, besok mungkin cukup sepiring sehari, dan lusa sebatas dua piring lagi, lalu sepiring, tanpa nasi, sepiring lagi, dua piring dan seterusnya. Kalau dilambangkan dengan deret angka kurang lebihnya adalah 0, 1, 2, 1, 0, 1, 2, .. dan berulang seterusnya.
Ide kampanye one day no rice sungguh perlu mendapat dukungan, walau sebatas kemampuan. Pemerintah juga sebaiknya tidak mematikan harga slogan kampanyenya sebatas sehari tanpa nasi, tapi perlu juga mengajak masyarakat dengan slogan sehari sepiring nasi, atau sehari makan dua kali seperti kanjeng nabi. Ajakan pemerintah dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan ini juga bukan hal yang berlebihan, terutama bagi umat muslim yang sudah baligh. Setidaknya mereka punya agenda berpuasa sebulan dalam setahun. Jadi, sudah terlatih mengurangi konsumsi makanan, apapun makanannya.
Aku sudah mencoba, dan bisa. Bagaimana dengan anda?
Rabu, 13 Oktober 2010
Selasa, 21 September 2010
Jumat, 17 September 2010
Senin, 06 September 2010
Wengi Sewu Sasi
Di kesenet, tanggal 26 Ramadhan 1431H dini hari, langitnya ceraaaaaaaaaah banget. Full of stars, the moon shine bright, walau cuma se sabit. Sementara tanggal 27 Ramadhan, mendung abis. Saya berfikir, lailatul Qadr itu jatuh di tanggal 26. Tapi mandup (teman hidup) saya ‘ngeyel’, katanya gak mungkin malam 1000 bulan jatuh di malam genap.

yang saya tahu tentang teori malam qadr, “kemungkinan jatuh di sepuluh hari terakir, terutama malam ganjil”
So… apakah:
1. Tanggal 26 tidak termasuk 10 hari terakhir bulan puasa?
2. Alloh gak boleh ingin menjatuhkan malam 1000 months di malam genap yang (menurut manusia) bukan termasuk yang diutamakan?
3. Mustahilkan malaikat Jibril memandegani crew-nya turun di dini hari yang mendung?
yang saya tahu tentang teori malam qadr, “kemungkinan jatuh di sepuluh hari terakir, terutama malam ganjil”
So… apakah:
1. Tanggal 26 tidak termasuk 10 hari terakhir bulan puasa?
2. Alloh gak boleh ingin menjatuhkan malam 1000 months di malam genap yang (menurut manusia) bukan termasuk yang diutamakan?
3. Mustahilkan malaikat Jibril memandegani crew-nya turun di dini hari yang mendung?
Senin, 16 Agustus 2010
Anakku latihan puasa
Hanung sudah latihan puasa. Nyampe jam 11 siang, itu highest record sampai 5 hari awal puasa 1431 H ini. Huebat ndhuk...
Label:
grundelan puasa,
Hanung Kamila Marva
Banjarnegara berbasis pertanian
Itu motto yang lagi diboyong oleh duet Pak Djasri dan Pak Harjo. Hebat kan...
kok sawah thukul umah?????
TAPI.....
kok sawah thukul umah?????
Ngenyek Gubernur
Seperti biasa, tanggal 17 Agustus ingsun dan teman-teman PMR plus anak-anak PMR piket pertolongan pertama upacara peringatan detik-detik proklamasi di aloon-aloon kota.
Apa yang ingsun lihat?
Di barisan paling belakang, ada 4 baliho / spanduk. Di paling ujung kiri dan kanan (timur dan barat), gambar pak Bibit Waluyo. Dua lainnya gambar pasangan pak Jasri (Bupati) dan Pak Harjo (Wabup plus cabup), salah satunya dengan nuansa pertanian. Lhoh.. siapa pasangan pak Bibit di dalam gambar?
Yang wetan, Pak Bibit berpasangan dengan ikan mas / wader abang, di kulon berpasangan dengan wedhus. lha blaik..... oh iya... bali ndesa mbangun desa dhing ..... Ya ada mempernya. Kalo pose pak bibit sedang nembang ya gak sinkron dengan programe.

gambar di atas masih mendingan lhoh...
Mana Bu Wagub....? Mungkin karena bukan muhrimnya, jadi tidak disandingkan di baliho. ...
Nuwun sewu lho pak bibit, kebijakan "Bali Ndeso Mbangun Deso" punya pak Bibit dipandang dari sudut yang lain. Nek pak Bibit tersinggung, saya nyuwun ngapunten nggih pak!
Apa yang ingsun lihat?
Di barisan paling belakang, ada 4 baliho / spanduk. Di paling ujung kiri dan kanan (timur dan barat), gambar pak Bibit Waluyo. Dua lainnya gambar pasangan pak Jasri (Bupati) dan Pak Harjo (Wabup plus cabup), salah satunya dengan nuansa pertanian. Lhoh.. siapa pasangan pak Bibit di dalam gambar?
Yang wetan, Pak Bibit berpasangan dengan ikan mas / wader abang, di kulon berpasangan dengan wedhus. lha blaik..... oh iya... bali ndesa mbangun desa dhing ..... Ya ada mempernya. Kalo pose pak bibit sedang nembang ya gak sinkron dengan programe.
gambar di atas masih mendingan lhoh...
Mana Bu Wagub....? Mungkin karena bukan muhrimnya, jadi tidak disandingkan di baliho. ...
Nuwun sewu lho pak bibit, kebijakan "Bali Ndeso Mbangun Deso" punya pak Bibit dipandang dari sudut yang lain. Nek pak Bibit tersinggung, saya nyuwun ngapunten nggih pak!
Langganan:
Postingan (Atom)

