Padepokan Budi Rahardjo

KOMPAS.com - Sains

Sabtu, 20 September 2008

ujianku on romadhon 2008 / 1429 H

Assalamu ' alaikum wr wb.

Ibu Dedeh Rokhimakumullah.

Melalui surat elektronik ini saya ingin mencurahkan isi hati saya kepada Ibu, berkaitan dengan problem rumah tangga yang

sedang saya alami. Kronologinya seperti ini:

1. Hari Selasa, Tanggal 8 September Istri saya mengirim SMS kepada saya yang masih berada di Kantor, isinya supaya saya cepat pulang. Kemudian istri saya menambahi bahwa ia baru saja menghajar anak kami satu-satunya yang masih berusia 3 tahun 4 bulan karena anak kami tidak menurut pada ibunya, dan lebih menurut pada budhe-nya.

Sekedar catatan, kondisi ekonomi keluarga kami saat ini memang relatif tak sebaik keluarga kakak saya. Keluarga saya dan kakak saya tinggal bersebelahan, kebetulan kami menempati rumah keluarga yang terdiri dari 2 bangunan tandem, ada pintu akses setiap rumah.
Anak kami hampir setiap hari pasti merengek minta ikut pakdhe / budhenya naik sepeda motor mengantar kakaknya ( anak kakak saya), dan belakangan anak kami juga ingin punya sepeda seperti milik kakaknya, sehingga ia lebih sering mencampuri kakaknya ketika bermain sepeda. Kedua hal ini rupanya membuat istri saya merasa risi, bahkan minder, namun istri saya mengatakannya sebagai sedih.

Di samping itu, memang kelihatannya anak kami lebih nyaman dengan keluarga budhenya. Tidak saya pungkiri baik kakak maupun kakak ipar saya sering membantu mengatasi kerewelan anak kami. Inilah yang kemudian membuat istri saya merasa tidak lagi

memiliki otoritas terhadap anak kami. Istri saya khawatir terhadap masa depan dan kepribadian anak kami, karena memang keluarga kami memiliki lifestyle yang berbeda dangan keluarga kakak saya yang juga melayani keperluan rumah tangga ayah kami (sudah menduda 12 tahun).

2. Ketika saya sampai di rumah, saya menjumpai hal-hal sebagai berikut: pertama, pintu akses ke rumah kakak dikunci dari dalam oleh istri saya. kedua saya menyaksikan istri saya dalam kondisi manyun, melamun kesal pada realita. ketiga, anak kami masih dalam kondisi tersedu-sedu / sesenggukan akibat dihajar ibunya, walau ia sedang bermain dengan anak kakak kami, dan ia selalu menolak untuk dipertemukan dengan ibunya. Saya coba bicara pelan, halus dan baik-baik pada istri saya supaya bisa memaklumi perilaku anak kami itu, namun rupanya kekesalannya membuat istri saya tidak dapat berfikir jernih. Apalagi saat itu anak kami dalam keadaan sakit panas dalam, dan Alhamdulillah hari itu budhenya meluluri anak kami dengan bawang merah dan minyak kelapa hingga bisa meringankan sakitnya. Kemudian saya mencoba mengibur anak kami dengan cara menemaninya hingga sore, dan sampai ia mau makan, walau sekedar buah.

3. Sore hari, sekitar jam 4, saya menyalakan komputer sekedar untuk mengisi waktu senggang dan refreshing. Istri saya akan memasak nasi menggunakan rice kooker. Ia minta saya mematikan komputer, tentu masih dalam keadaan tidak gembira. Ketika ia menanyakan apakah komputer sudah dimatikan, saya jawab "sudah" dengan pelan. Rupanya istri saya belum percaya dan mengulangi pertanyaan serupa masih dengan nada cemberut. Ketika inilah saya silap / khilaf. Dasar pikiran dan badan saya capek, ditambah harus bersabar menghadapi kondisi istri saya, saya jawab 'sudah" dengan irama bentakan. Di sinilah istri saya mulai ngambek.

Ia komplain dengan cara berkata, " tak usah pakai bentak kenapa?" Saya pun menjawab " tak usah pakai cemberut kenapa?". Istri saya tidak ridho. Ia nekat pulang ke rumah ibunya tanpa melihat situasi waktu. Karena waktu masih sore dan cuaca tidak mendukung, semua perlengkapan "minggat" yang kebetulan masih berada di kamar, saya kunci dan kunci saya simpan.

4. Malam hari, istri saya berangkat tarowih dan anak kami masih "benci" pada ibunya. Pintu rumah yang kami tempati, saya kunci dari dalam termasuk pintu akses dari rumah kakak. Pamrih saya, saya ingin tahu, apakah istri saya akan menemui ayah dan kakak saya atau tidak. Ternyata ia lebih memilih transit di rumah tetangga depan rumah. Setelah tahu itu, saya buka pintu, dan istri saya pulang dengan penuh kemarahan dan kebencian pada saya. tak mau sedikitpun bertegur sapa.

5. Menjelang tidur, anak kami masih belum mau tidur dengan ibunya, dan memilih tidur dengan budhenya. Namun setelah tidur, ia diboyong oleh istri saya dan tidur dalam pelukannya, pun ketika terbangun di tengah malam, ia meronta minta tidur dengan budhenya dan tak mau tidur dengan ibunya. Saya sendiri tidur di kursi dekat kamar. Masalah tidur dengan budhenya, memang bukan pertama kali. Namun sebelunya lebih dikarenakan karakter anak kami yang masih sekedar ingin.

6. Pagi hari, saya ceritakan kronologi itu pada mertua saya (sudah janda). Saya mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan, termasuk memohonkan maaf bila istri saya durhaka pada ibunya. Seingat saya istri saya pernah mengolok-olok ibunya seperti ini: "Ibu maunya memakaikan baju ke orang lain tapi pakai ukuran badan sendiri". Maksudnya ibu mertua saya dianggap egois dan otoriter. Dan itu, langsung tidak langsung sebenarnya juga dilakukan oleh istri saya terhadap anak kami, sehingga ia dibenci semalaman oleh anak kami.Saya berpendapat apa yang ditunjukkan oleh anak kami adalah peringatan bahwa kami pernah durhaka pada ibu kami/mertua saya.

7. Kebetulan, adik istri saya yang biasanya serumah dengan ibu, saat itu tidak lagi bersama, karena ikut suami di desa sebelah. Maka saya sinkronkan kondisi istri saya dengan kondisi di rumah. Saya ambil keputusan, istri saya boleh pulang, tapi jangan karena marah / jengkel, melainkan karena ibu butuh teman, sekaligus untuk menenangkan hati dan pikiran. Keputusan ini diabaikan oleh istri saya. Ia tetap marah dengan bukti, handphonenya tidak di bawa dan flash disk kerja saya ia sembunyikan, bahkan jika tidak saya paksa/pancing, ia tidak akan pamit baik-baik. Cium tangan saja tidak mau. Saya merasa usaha saya menghalusi istri saya tidak dianggap.

8. Beberapa hari saya memang tidak menyusul karena faktor pekerjaan dan keuangan untuk transport yang minin. Hal inipun sudah saya sampaikan pada mertua ketika saya mengadu. Namun dampaknya di luar dugaan. Situasi memanas. Saya kembali ingatkan dia untuk bisa terima dengan kondisi keluarga kakak saya, ia tetap tak mau terima dengan alasan tidak baik untuk anak kami. Ayah saya sendiri sampai berkomentar bahwa istri saya tidak tahu terima kasih dan jumawa. Ini yang membuat saya kalut. Ditambah lagi istri saya berkomentar ia lebih baik selamanya dengan ibunya, jika saya tidak bisa setiap hari menemuinya. Padahal ia tahu persis bahwa penghasilan saya sebagai guru swasta tahun ini tidak lebih baik dari tahun sebelumnya, ditambah lagi harus ada pos pengeluaran untuk biaya kuliah yang baru saja saya mulai. Saya makin kalut.

9. Suatu saat istri saya tanya lewat SMS, bagaimana rasanya jauh dari anak. Saya jawab saya santai saja tanpa saya jelaskan alasannya karena saya dalam kondisi ngantuk di tengah acara tidur malam. Ia kembali menjawab:"jika begitu saya lebih baik jauh dari suami daripada jauh dari anak." Awalnya saya tak ambil pusing, karena saya tahu persih, istri saya emosional. Namun
pikiran saya justru semakin kalut. Ini yang kemudian membuat saya berinisiatif "mengirim utusan perdamaian" yaitu kakak-kakak saya yang lain. Dan karena kalutnya, saya bertanya pada ayah saya, bagaimana jika istri saya dicereikan? jawaban ayah saya pun diplomatis," terserah kamu, coba minta pendapat pada saudara-saudaramu! Kamu sendiri yang memutuskan. memang istrimu jumawa dan tidak tahu teirma kasih, tidak merasa selalu ditolong" Pendapat ayah saya tindak lanjuti dengan mengiri sms ke saudara-saudara saya yang bunyinya. " istri saya mau saya beri talak 1. Ada komentar?" jawaban yang masuk semuanya mengatakan JANGAN, dengan berbagai macam argumentasi, terutama menyangkut anak kami.

10. Kebetulan bulan ini, gaji saya terlambat sehingga nafkah untuk istri saya juga tertunda. Ini membuat istri saya sensitif, telebih lagi beberapa hari sebelumnya ia sudah pesan supaya saya beli susu untuk anak kami. Ia protes menagih kewajiban saya. Saya jawab dengan mempertanyakan apakah istri saya sudah memenuhi kewajibannya pada suami? jawaban saya sampaikan masih di dalam suasana kalut, sehingga di akhir jwaban saya caci dia dengan kalimat, "dasar istri durhaka".

11. Hari Jumat kemarin, 19 September 2008, kakak ipar saya yang lain, yang juga sudah kenyang masalah rumah tangga dan cukup akrab dengan istri saya. Dari obrolan mereka didapat poin-pon sebagai berikut:

a. Ia lebih baik di sana karena anak kami jadi lebih terkontrol, dan tampak lebih sehat. Meskipun ketika kakak saya pamit, anak kami merengek ingin ikut dengan alasan ingin ketemu bapaknya.

b. Istri saya mengatakan, kalau saya ke sana harus dengan saudara-saudara yang lain. Maksudnya jika saya mau terus berumah tangga ataupun mau putus, harus ada yang mengetahui.

12. Terakhir, malam tanggal 21 September ia kirim SMS, "selamat berfikir, mau putus (CERAI) apa terus". Saya jawab, "Tunggu saja jawabannya setelah saya istiharoh. Selamat tidur, semoga dalam tidurmu kamu mendapat hidayah."

Ibu Dedeh, Menanggapi hal ini sikap yang sudah saya ambil adalah: saya berusaha bersabar. Masya Allah, di bulan Romadhon saya dapat ujian sebegitu mengagetkannya sehingga bagi saya memang terasa lumayan berat. Alhamdulillah saya ingiat arti surah albaqoroh ayat terakhir yang mengatakan bahwa Allah tidak akan mencoba manusia kecuali masih dalam batas kemampuannya. Selain itu, saya sadar betul tahun 2000 di bulan puasa juga, Saya mohon kepada Allah untuk menunjukkan siapa gerangan jodoh saya. Dan Allah mengabulkan permohonan saya. Bayangan yang muncul dalam mimpi "pesanan" (sebagai bentuk petunjuk yang saya minta dari Allah) mirip sekali dengan sosok istri saya. Dan juga saya tidak terlalu ganteng juga tidak jelek-jelek amat. Sehingga, memangnya siapa lagi yang mau dengan orang seperti saya, apalagi kalau sudah jadi duda (naudzubillahi mindzaliq). Perceraian bagi saya adalah jalan paling akhir, pun sebisa mungkin ditunda terus.

Mohon kiranya Ibu Dedeh memberi nasihat. Kebetulan keluarga mertua sering menyaksikan acara mamah dan aa. Semoga Ibu Dedeh menjadi perantara jalan keluar dari kemelut rumah tangga kami. Amin.

Senin, 08 September 2008

BENIH SETAN DI BULAN ROMADHON

Kata pak Kiai, pada bulan Romadhon puasa dipenjarakan sebulan penuh di base camp-nya, neraka. Tapi kenapa justru di bulan puasa itu, godaan terasa semakin tambah dan mudah menjumpai setan-setan berkeliaran dalam rupa manusia, ya? Gak sedikit lhoh, di bulan puasa orang yang kesetanan. Entah berupa snewen, marah, tensi naik dan bla bla bla.

Mungkin karena selama sebelas bulan sebelumnya si setan sudah berhasil menitiskan benih-benih syaitoniah pada umat manusia. Jadi, biar kata setan lagi dipenjara, kadernya tetap leluasa di dunia, bahkan ikut puasa maupun nimbrungi orang puasa. :)

Senin, 14 Juli 2008

KONROVERSI PUTRI INDONESIA DI MISS UNIVERSE

Apa penapat ingsun?
1. Mungkin putri indonesia bukan seorang muslimah. Jadi ia memang enggak tahu dan enggak dituntut tahu apalagi mengerti dan mengamalkan faham AURAT wanita.

Kalau dia muslimah?
2. Mungkin dia belum pernah baca Al Quran, jadi memang enggak tahu ada tuntunan tentang aurat di dalamnya.

Kalau dia sudah baca Qur'an?
3. Mungkin ia hanya sekedar membaca laval arabnya, dan tidak membaca terjemahannya bahkan tafsirnya. Jadi ia lagi-lagi enggak tahu bahwa seorang muslimah mempunyai tuntunan tentang aurat.

Kalau dia sudah baca arti dan terjemahnya.
4. Itu namanya STMJ (sembayang tekun, maksiat juga). Atau... mungkin memang dia sudah TIDAK BERTUHAN. Agama hanyalah formalitas dalam mengisi KTP.

Kalau dia bertuhan?
5. Kita doakan saja semoga Allah / Tuhannya memberi petunjuk menuju shiratal mustaqim.

Mungkin ajang Putri Indonesia / Miss Indonesia perlu ditandingi degan Putri / Miss Indonesianis. :)

Selasa, 24 Juni 2008

LARANGE REK....!

Hanung Kamila Marva, memang masih tiga tahun, tapi dia sudah merengek minta sekolah pada bapak dan ibunya. Dia belum memikirkan betapa prihatin orang tuanya pada dunia persekolahan dewasa ini. Satu masalah saja... muahal banget.

Bapaknya mengajar di sebuah STM. Berapa ongkos daftar ulang di STM itu? Mendekati 1,150 juta. Berapa daftar di TK terdekat? 800 ribu. Ponakkannya tidak bisa sekolah di SD yang sama dengan kakaknya karena biaya pendaftaran mencapai 1 Jt. Waw...

Berapa rupiah yang mesti keluar dari pundi bapaknya si Hanung? Ke mana musti Hanung di sekolahkan, baik saat ini atau nanti?

Well..... beruntung ibunya Hanung berfikir sangat realistis. Cari saja sekolah yang murah, sekalipun itu di pinggiran. Yang penting ketika anak di rumah orang tuanya lah yang wajib menggawangi proses belajar si anak. Dan.. sesuai dengan buku " MENJADI MANUSIA PEMBELAJAR" karya Andrias Harefa yang ada di rumanya, si bapak dan ibu menyadari bahwa kehidupan sehari-hari adalah juga sekolah, bagi manusia dan yang besar di jagat raya ini.

Tapi, di mana ada sekolah murah di mBanjarnegara? Setidaknya di SD Negeri Semarang 2, atau MI Muhammadiyah Pucang yang gratis. Emang bisa sekolah gratis? Ada kemauan ada jalan

Kamis, 29 Mei 2008

BAGAIMANA KITA TIDAK BODOH!

Pertama.
Nonton sinetron, suguhannya lebih banyak kultur-kultur kapitalis dan cerita-cerita yang tidak membumi. Miskin sekali karakter-karakter cerdas di dalamnya, termasuk si anta gonis. Kalau marah, mata dipelotot-pelototin. Si protagonis dilemah-lemahin. Orang mBanjar bilang.. lebih banyak plekotho-annya. mBok yao bikin sinetron yang kaya McGyver, atau... yang inspiring gitu lhoh.

Kedua.
Nonton berita, sajian terbanyak (saat ini) cuma demonstrasi, merusak, semau gue, enggak ada elegannya sama sekali, dan seabrek keluh kesah tanda ketidak berdayaan. Sebenarnya si bukannya tidak berdaya, tapi sungkan memberdayakan diri. Cuma sekelumit berita yang mampu menggugah optimisme. ibara jeruk, prestasi Pak Budiharyono yang kreatif dengan solar sel murah, cuma diekspose sebatas kulitnya. Padahal, detil informasinya sangat penting untuk dicontoh dan jejak beliau patut diikuti. Begitu pula riset bahan bakar yang dicampur air di sulawesi utara (kalau gak salah ingat). Padahal... informasi awalnya sangat dibutuhkan supaya lebih banyak yang turut mengembangkan. Lihat saja prestasi LINUX, Linux bisa sebesar itu karena Linus Torvalds tidak pelit memberi kernel alias mengopenkan soruce code-nya dan membuka kesempatan para programer mengembangkannya.

Ketiga.
Nonton acara debat, seolah-olah setiap masalah di negeri ini cuma bisa disikapi dengan setuju dan tidak setuju, lalu menawarkan penilaian mana yang benar dan mana yang salah. mBelgedhes! Kalau ditanyakan apa itu benar, dan apa itu salah, Pasti mas Vito dan mas Indi cuma bisa menjawab versi mereka masing-masing saja. Karena mereka itu terlalu kecil untuk menguasai hal yang maha rumit tentang konsep BENar dan SALAh.
Apa iya tidak ada the third choise? Soal Ujian nasional saja memberi option sampai 5. Bagaimana masyarakat akan mampu menyikapi persoalan secara proporsional, kalau cuma disodori pilihan setuju, tidak setuju? Bagaimana mindset masyarakat akan berkembang kalau dikotakkan pada perkara benar dan salah?

Keempat.
Acara penjaringan prestasi... wah... lebih ngenes lagi. Cuma banyak di bidang nyanyi. Pun dibawakan nyaris tak manusiawi lagi. Kayaknya produser sudah kehabisan ide, sehingga plot waktu acara kontes nyanyi sampe 5 bahkan 6 jam. Kagak bisa bikin acara laen apa? sudah 100 tahun bangkit, dan 63 tahun merdeka, eh.. bangga disusupi penjajahan HEDONISME. yah.. semoga suatu saat nanti,kuis GALILEO bisa muncul lagi. entah oleh INDOSAT atau lainnya.

Kelima.
Browsing cari informasi/literatur/jurnal berbahasa indoensia di internet. Miskiiiiiiiiiiiiin banget. Contoh, bagaimana membuat bio ethanol, membuat solar sel, mencari penjual solar sel, atau mencari detil berita inspiring di tv.Alhamdulillah sudah ada undang-undang keterbukaan informasi. Matur nuwun Pak M Nuh. semoga ditindaklanjuti dengan undang-undang anti pelit berbagi ilmu.

Yah... mudah-mudahan tontonan kegemaran saya ini bisa mengobati rasa geregetan saya. Maaf saya hanya bisa memberikan ucapan salut pada:
1. PERSPEKTIF Wimar.
2. Bolang.
3. Laptop si Unyil.
5. Cita-citaku.
6. Asal Usul.
7. Hanya di Indonesia Nuansa Pagi.
8. Rapublik Mimpi.

Jumat, 23 Mei 2008

REPUBLIK MIMPI TELAH MENGUSIK INGSUN

Assalamu 'alaikum wr wb.

Yth Bp. Effendi Ghozali Ph.D, dan seluruh awak republik mimpi. Setelah menyaksikan Republik Mimpi Jumat 24 Mei 2008, saya perlu mengutarakan

pendapat saya sebagai berikut:

Satu.
Hendaknya RM (Republik Mimpi) tidak terjebak pada masalah setuju atau tidak setuju atas kenaikan harga BBM, karena hal itu bisa berdampak pada RM dengan dianggap sebagai pihak yang tidak netral. Selain itu, kenaikan harga BBM pada tahun ini perlu ditinjau dari banyak perspektif (sudut pandang) dan RM sebagai tayangan konsumsi untuk umum alangkah baiknya bisa memberikan informasi secara proporsional, sehingga masyarakat bisa menyikapinya secara lebih arif, lebih dewasa. Dengan demikian RM setidaknya mampu menyajikan hiburan / tontonan yang mendidik. Artinya pula bila RM menyatakan tidak setuju atau setuju, RM sudah melakukan hal-hal yang (bukan mustahil) TIDAK MENDIDIK.

Dua.
Masih berkaitan dengan nomor satu, pada tayangan tersebut, RM menyatakan tidak setuju, TAPI... adakah solusinya..? sejauh yang saya amati TIDAK ADA. Mungkin RM ingin  menggambarkan perilaku para wakil rakyat (atau tepatnya wakil partai) yang katanya terhormat itu, tapi...lagi-lagi RM sudah terjebak pada disindependensi. kalau salah istilah, mohon dikoreksi. Alahgkah baiknya bila RM mampu menginspirasi pemirsa bagaimana menyiasati masalah BBM. Bukankah masalah BBM juga masalah global? Amrik saja bermasalah dengan BBM.

Tiga.
Bila dicermati perilaku masyarakat pada setiap kali ada momen kenaikan harga BBM, barangkali dapat diambil hipotesis bahwa MASYARAKAT INDONESIA TERGANTUNG PADA BAHAN BAKAR MINYAK (seberapapun levelnya). Padahal, dalam pelajaran SD / SMP sudah dijelaskan bahwa minyak bumi terjadi dari pembusukan fosil selama jutaan tahun dan Bang DIDI PETET pun (dulu) tak bosan-bosan memberitahu bahwa PERSEDIAANNYA SEMAKIN MENIPIS. ARtinya, jika tingkat konsumsi BBM setara dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang bak deret logaritmik, maka akan tiba saatnya minyak bumi HABIS! SEEP! ENTEK! dan butuh waktu yang laaaaaaaaamaaa lagi untuk mendapatkan kembali minyak bumi. Sementara itu dalam ilmu EKONOMI yang di pelajari di SMP / SMA dikatakan JIKA PERSEDIAAN LEBIH SEDIKIT DIBANDING PERMINTAAN atas suatu barang, MAKA HARGA BARANG TERSEBUT MENJADI MAAAAAAAHAAAAAAAAALLLLLL. Jadi, dengan silogisme seperti tadi, wajar saja bila BBM MAHAL. Sementara itu, teknologi telah membantu manusia dengan ditemukannya SUMBER DAYA TERBARUKAN seperti biogas, biodiesel, dan bioethanol. Jadi... saya berpendapat sudah saatnya MASYARAKAT INDONESIA DILATIH UNTUK TIDAK TERGANTUNG PADA MINYAK BUMI.

Empat.
Simpati anda terhadap tindak tidak adil pada para pengunjuk rasa saya kira wajar. Unjuk rasa memang salah satu bentuk ekspresi terhadap suatu masalah dan menyampaikan aspirasi. Bila unjuk rasa itu dilakukan secara elegan, saya kira hanya orang-orang yang dungu saja dan takut terancam kedudukannya yang akan tidak senang. Masalahnya.... saya sudah tidak lagi melihat eleganisme / egaliter (mana yang tepat ya?) pada unjuk rasa yang ditayantkan di TV. JIka Anda yang jadi polisi, Anda juga sangat mungkin bertindak keras pada mereka.
Satu hal barangkali yang saya anggap lucu, atau bahkan mengenaskan, KATANYA MAHASISWA, (kan mahasiswa makhluk yang makan sekolahan. soal dia makan ajar atau tidak sih EGP) TAPI MASA IYA, CUMA BISA DEMO. MENGAPA YANG JUSTRU BERKREASI SEPEDA MOTOR DENGAN BAHAN BAKAR BIOGAS ADALAH ORANG YANG TIDAK MAKAN SEKOLAHAN? Meski begitu, dengan meminjam ungkapan dari AA GYM, saya bisa memaklumi. TIDAK BISA KITA BERHARAP BANYAK PADA ORANG / SIAPAPUN YANG SEDANG DALAM PROSES. Mahasiswa kan sedang dalam proses jadi sarjana ya. Ntar sudah jadi sarjana entah bisa apa-apa atau tidak... lain perkara... :) Maaf saja, ini fakta tentang carut-marut dunia pendidikan.

LIMA.
Saya terkesan dengan PUISI yang dibawakan oleh BANG DEDI MIZWAR tentang kebangkitan nasional, juga feature / film tentang SELAMATKAN INDONESIA yang kembali direquest oleh banyak pemirsa RM. untuk itu, mohon kiranya RM menyampaikan aspirasi saya kepada TV-ONE untuk dapat memuat kedua tayangan / movie tersebut ke dalam dunia maya (internet) dan bersifat DOWNLOADABLE (bisa diunduh) dengan mudah. ATau jika RM berniat mengkomersialkannya dalam bentuk CD dalam harga yang terjangkau untuk keperluan donasi, saya bersedia memesan.

demikan saja 5 ASPIRASI saya untuk REPUBLIK MIMPI. Semoga MIMPI IBU PERTIWI BISA JADI KENYATAAN, PUTRA-PUTRI BANGSA INI BISA SELAMATKAN INDONESIA. AMIN. kurang dan lebihnya mohom dimaafkan.

Wassalamu 'alaikum wr wb.


NUGROHO,
SEEKOR JANGKRIK YANG MENYANYI DI SIANG BOLONG.

Rabu, 07 Mei 2008

BBM NAIK... so what gitu lhoh...!?

BBM ganti harga...!?
1. Yang nolak policy ini (ada mahasiswa, ada rakyat yg sebenernya sih gak jelata-jelata amat, ada bos DPR dan konco-konconya),
a. Mereka tahu kondisi keuangan negara dan situasi dunia apa enggak ya? Atau barangkali pura-pura gak tahu, atau memang betul-betul gak mau tahu. Yang saya tahu, ini deket-deket dengan 2009. Bagi politisi, butuh strategic comment.

b. Ada juga yang beralasan masih ada cara lain menghindari kenaikan harga, tapi... kayakya mereka pelit banget mengatakan cara itu. Apa dia nunggu jadi presiden dulu, atau minimal wakil rakyat lah... (yang pasti gak akan jadi wakil ingsun, wong ingsun gak akan milih legislatip).

c. Yang jelas banget, kalau yg nolak rakyat jelata (atau ngaku-ngaku jelata), mereka kebanyakan cenderung berkomentar untuk kepentingan mereka sendiri. Ada juga sih yang cerdas, yang memandang kenaikan ini secara proporsional. Tapi dikit! cuma satu di antara sekiaaaaan...

2. Yang memaklumi kenaikan ini:
a. Ikhlas enggak ya mereka bersikap seperti itu? Yang ingsung tahu sih, ikhlas adalah urusan masing-masing individu dengan Tuhan-nya.

b. Bisakah mereka menyiasati kondisi ini sebagai konsekuensi atas excuse yang ia lakukan? Semoga saja begitu.

3. Kalau Ingsun.... ;)

a. Pasti akan merasakan dampak kenaikan ini. Harga beras, lauk, sayur, buah dan susu pasti ikutan naik. Minyak latung yang ingsun masih pake juga naik. Tapi ingsun beluma akan beralih ke LPG, soalnya pasti ikut-ikutan naik juga biar kata LPG adalah pengganti (konversi) dari mitan.

b. Ingsun harus berusaha percaya pada penguasa semesta yang berfatwa dalam Al Baqarah 286 yg artinya, Allah tidak akan menguji manusia, melainkan dalam batas kemampuannya.

c. Gaji gak ikut naik, yah... apa mau dikata. Emang segitu rejeki gua eh ingsun.

d. Enggak setuju ada BLT (Bantuan Langsun Tunai) soalnya banyak orang rame-rame pengin dianggap miskin. Jadi... ketika togel marak ada istiah OKB, kini ketika ada BLT muncul OMKM Orang Miskin Kok Mendadak.